Kemana Cinta Pergi di Tahun Baru?

January 1st, 2006 by adalelakibelajarbahagia

Happy
New Year, 2006:

Semoga
banyak hal yang jadi lebih baik.

Catatan Akhir Tahun (about love):

Seperti tahun
yang udah lewat, kagak ada Cinta malam ini buat JombloSudahSangatHina kayak
gua. Bentar lagi smester 4 Cos! Tapi gua masih juga nge-jomblo, tersesat,
terjebak, tak berdaya di antara lirikan dan senyuman maut cewek-cewek maniz di
UI yang kebanyakan mengenakan busana model “insert coin” (masukan koin),
hehehehe… :-p

Sebabnya tentu
kompleks, kenapa gua masih juga nge-jomblo. Mungkin karena gua kurang maksimal
usaha hunting & pedekate (gua emang gak mahir ngedeketin cewek), atau
terlalu memilih (pilih-pilih dikit wajar kan; ini soal temen hidup; soulmate…Cos!). Mungkin karena perasaan minder dan kurang pede yang selalu
menghambat gua memulai usaha ngedeketin cewek (coz muka gua emang sama sekali
nggak mirip sama Tora Sudiro, dan terkadang gua ngerasa belom punya cukup duit
tuk ngajak cewek ke Centro atau Ragunan, misalnya :-p). Mungkin juga karena
frustasi dan sedikit trauma, efek dari akumulasi patah-hati yang relatif
terlampau sering sebelumnya. Mungkin karena gua belom dewasa dalam mencintai
seseorang: terjebak dalam narsisme dan cinta yang cengeng. Tapi, ah sudahlah,
untuk sederhananya, anggap aja belum jodoh.

Seandainya ada
soulmate yang bisa gua ajak bermalam-mingguan sekaligus bermalam tahun baruan:
menikmati alunan musik dan segelas espresso di cafe terapung Selat Sunda
(Patrajasa, Anyer - Carita), atau mencicipi bebek panggang di Puncak Bogor. Ah,
mimpi yang manis. Nyatanya, saat ini, malam tahun baru ini, gua “kesepian”,
terpaksa asik sendiri di kamar Asrama Mahasiswa UI Depok Blok D.1 No. 323.

Ditemani
lagu-lagu jadul via winamp, segelas teh hangat, sekotak malkist crackers, gua
tulis puisi di bawah ini. Berbicara dalam bahasa puisi, acap kali lebih
melegakan dan membuat gua ngerasa lebih sehat dari sebelumnya. Selamat membaca
& Thanks be 4 J

Salam Hangat,

Endang Rukmana

Kemana Cinta Pergi di Tahun Baru?

Izinkan satu detik lagi, di antara tiupan terompet

Kucari Cinta

Izinkan, meski tahun telah terganti

Di keriuhan samudera bunga api, biar kucari jejakmu cintaku!

Seperti tahun lalu, izinkanlah

Kuteriakan namamu Cinta, di kedalaman lubuk harap dan doa

Dan jika tak kutemu,

Izinkanlah kubertanya, meski kata “jawab” telah hilang dari
Kamus Besar Bahasa Kita:

Kemana kau pergi di tahun baru, Cintaku?

Aku menunggumu, di bibir waktu.

Asrama Mahasiswa UI
Depok Blok D.1 No. 323,

31 Desember 2005,
Pukul 23.55 WIB – 1 Januari 2006, Pukul 01.01 WIB

Puisi-Puisi Endang Rukmana 2005 - 2003

January 1st, 2006 by adalelakibelajarbahagia

Puisi-Puisi Endang
Rukmana 2005


Kemana Cinta Pergi di Tahun Baru?

Izinkan satu detik lagi, di antara tiupan terompet

Kucari Cinta

Izinkan, meski tahun telah terganti

Di keriuhan samudera bunga api, biar kucari jejakmu cintaku!

Seperti tahun lalu, izinkanlah

Kuteriakan namamu Cinta, di kedalaman lubuk harap dan doa

Dan jika tak kutemu,

Izinkanlah kubertanya, meski kata “jawab” telah hilang dari
Kamus Besar Bahasa Kita:

Kemana kau pergi di tahun baru, Cintaku?

Aku menunggumu, di bibir waktu.


Asrama Mahasiswa UI
Depok,
31 Desember 2005,
Pukul 23.55 WIB – 1 Januari 2006, Pukul 01.01 WIB


Ode Anak Lelaki, Setelah 22
Tahun

Lahir aku dari hangat embun, 22 tahun lampau,

Pinggir kota Jakarta yang tersenyum resah

“Selamat datang, Nak! Menangislah untuk kami,

orangtuamu yang kering sudah air mata,” demikian Emakku
mengeja kata,

sehabis subuh yang risau tadi malam

Lalu kokok jago sumringah,

tak kenal lelah mengantarku tiap pagi mengenal dunia:

“Jangan takut menatap matahari, Nak!”

Dan masih belum juga jemu, hingga kini,

Senja yang pucat, silih berganti mendongeng padaku tentang
masa depan

Lalu tiba malam, ucapkan nina bobo sambil merangkulku dalam
gelap

Suatu ketika, kusaksikan ujung waktu yang paling merah itu,

menari-nari di atas kepala Bapak:

“Lihat Nak, tarian takdir menyeruku untuk bergegas! Jangan
pernah menangis Nak, sebab engkau lelaki, kelak sendiri saja.” demikian lagu
terakhir yang dibisikan Bapak padaku

Sejuta batu penderitaan tiba-tiba berhamburan menghimpitku,
terus menerus seperti itu,

membuatku jadi kerdil dan nyaris lumpuh

22 tahun sudah, saatnya berani berkaca

Namun apa yang kulihat, pada sebuah bingkai embun yang tua
dan penuh luka:

bayangku hanya setumpuk batu

Sendiri aku kini, terasing serupa sekeping batu di dasar
waktu

Menangis aku, tapi air mata yang menderas menjelma
kerikil-kerikil yang menyakitkan

Kurasa tak lagi ada yang menemaniku,

kecuali sekotak lamunan yang sesekali muncul, saat Senja
mulai asik bergurau

Tentang hari esok yang berwarna jingga

Kurasa tak lagi ada yang kumiliki,

kecuali sekotak embun yang telah jadi batu.

Asrama UI Depok, 29
November 2005


Maka
Bangunkan Aku

Ratu, kupilih jalan ini yang
berlumpur dan berbatu

Jalan pelengkap luka

Luka Hanoman

Luka lelaki yang bukan Rama atau
Arjuna

Semuram kabut

Di pungungmu, Salak, kulahirkan
puisi biar tak lagi muram

Dalam sahaja sungai-sungai di
lembahmu, kuhanyutkan sejarah

Dalam panas kawahmu, kulebur mimpi
dua puluh satu tahun lalu

Hingga lupa aku segala yang bernama
harapan

 

Kuingin lelap….

Embun bersenandung

Kabut bertasbih

Maka bangunkan aku

Saat para pendaki mulai bercerita

Nikmati secangkir kopi di muka
tenda.

Kawah
Ratu, Gunung Salak – Sukabumi, 11 – 13 Maret 2005


Mari, Masuk Ke Dalam Senjaku

Perkenalkan, aku lah lelaki senja

Bersama matahari tua, menjengukmu;

Puteri yang selalu bersama sejuta bintang

Lalu kubisikan padamu:

–mari, biarkan bintang-bintang itu, masuk ke dalam senjaku!

Lalu kau balas membisik:

–jangan, bintang-bintangku milik malam!

Awal Februari, 2005

=============================================================

Puisi-Puisi Endang
Rukmana 2004


Senja Patah

Jalan itu lengang

Senja patah

Dan angin menyendiri saja

Seharian sudah kita berbicara

Namun sepi tetap aku

Dan sepertinya kau tak pernah tahu

Sebentuk kutukan menyalamiku

Kudengar kau berkata

Bahwa Subuh tak membawa cinta yang kuseru

 

Di antara temaram lampu jalan kuberseru

“Mari, kita lanjutkan Sinta!”

Lalu sahutmu

“Jangan, wahai kera yang luka. Kudengar suara muadzin
memanggilmu pulang!”

Ah, kau bisa saja cari alasan

Untuk dapat kutinggalkan di bangku stasiun itu

“Sudah, bergegaslah Hanoman! Dan jangan menoleh lagi.”

Katamu, dalam senyum paling cantik dan paling luka

Maka aku melangkah menjauh

Melambai angin, bangku stasiun, rel kereta, daun-daun,
gang-gang, jalan lapang;

Dan bayangmu, kulihat mengantarku sampai akhir perjalanan
kita

Aku, tinggal kau

Bersama 1001 rambutku

Sampai nanti, Sinta!

Semoga kereta Rama tidak terlambat menjemputmu.

Akhir dari sebuah
senja, 4 Desember 2004


Malam Ini Izinkan Kucium Kamu

Malam ini adalah perjalanan menjauh dari kotamu

Meski kutahu tak akan lenyap jejak nafasmu

Dalam deru Pakupatan – Leuwipanjang

Dalam beku Parahiyangan

Izinkan kucium kamu

Izinkan kucium kamu

Serang-Bandung, suatu
malam di bulan Juli 2004


Kita Masih Bisa Beli Beberapa Puisi

Di tebing matamu Emak, sejuta murung
bertengger

Kudengar riak resah, kuhafal debur
gundah, dan gemuruh amarahmu

Sebab anak-anakmu

Makan sisa nasi goreng dingin sore
ini

Tak ada ikan dari nelayan

Cuma garam pelengkap kesedihan, jadi
lauk nanti malam

Emakku, makanlah

Redakanlah segala riak, debur, dan
gemuruhmu

Usah khawatir dengan periuk yang
kosong itu

Sungguh, aku masih bisa beli beberapa
puisi

Untuk dimakan esok hari.

Kaujon, 4 April 2004

 

Maaf,
SMS-mu Tak Kubalas

Ah, sungguh aku

Malam ini beribu nomer datang

Beribu pesan

Beribu nama

Beribu wajah

Beribu lamunan

Beribu nyanyian

Beribu ketegangan

Beribu kejemuan

Beribu lagi yang tak kuasa kusebutkan

Jadi maaf, SMS-mu tak kubalas.

Kamar, dini hari, 24
Maret 2004

Hanoman
Mencari Cinta

O, teman perempuanku

Siapa dia yang kau cari-cari dalam mimpimu

Rama dengan kereta kencana

Atau Arjuna dengan panah cintanya

Siapa dia yang mampu, membikinmu

melenguh dan memeluh

Kumalu

Kumau

Kucemburu

Kutergugu

Kumerindu

Namun tak punya aku, kereta dan panah itu

Kuluka

Kuluka

Memburu kuluka

Maka aku perkenalkan lah:

Hanoman mencari cinta!

Kamar, pukul 24.30, 22
Maret 2004

Cerita
dari Kamar Lelaki

Tiap kamarku

Adalah berlembar-lembar ruang berisi kisah

Kisah tentang aku dan keringatnya

Kisah tentang aku dan sisa lamunannya

Kisah tentang aku dan jejak pencariannya

Lalu kisah-kisah lelaki lainnya.

Maret, 2004

Saat Itu Umurku 27

–kepada Yth. Perempuan yang teramat ingin kumemilikinya

Hemmh…, ya bertahun-tahun lagi ya

Saat itu umurku 27: punya rumah sederhana, bekerja

sebagai guru negeri, sedikit deposito di bank, dan

sebuah motor bebek mungkin

Saat itu akan maukah kamu: menikmati

hangat teh manis bersamaku, menjelang

malam-malam punya kita

Dan biarkan dunia dengan gerutunya.

Kelas, Maret 2004

Lelaki
di Musim Kemarau

Mencintai itu,

Seperti menanam perasaan

Suatu waktu memetik

Namun jika tak ada, apa pun

yang kau petik

Tak usah henti jadi petani

Anggap ini kali sekedar panen gagal,

sebab musim kemarau.

Kamar, Maret 2004

Menulis
Aku untuk Kamu

Menulis aku karena kamu

Seribu sajak yang bening

Seribu sajak yang keruh

Hanya untuk katakan, sedemikian

ingin aku,

mencium kamu.

Kamar, 17 Januari 2004

Sementara Hujan Tinggal Gemericik

Sementara hujan tinggal gemericik

Namun udara masih nikmat nyanyikan duka

Aku menghela sembilan puluh sembilan nafas

Jemu membaca kesedihan, di halaman

Dan sepanjang jalan.

Serang, 5 Januari 2004

=============================================================

Puisi-Puisi Endang
Rukmana 2003

Serupa
Pasir Serupa Air

Aku serupa pasir

Jangan menggenggam terlampau erat

Aku serupa air mengalir

Jangan memaksa melukis di riaknya

Biarkan aku teronggok getir

Biarkan aku, meski tak tiba di hilir.

Kamar Lelaki, 18
November 2003

Pintu
Sorga untuk Pendosa

Lamat-lamat kau mengabur

Hilang bayang di ujung senja sebuah kampus

Ada yang terhempas dan pupus

Dalam ruang sendu dan kelam waktu

Lalu yang tinggal lagi-lagi secuil tanya: kita berlainan
arah?

Kau selalu serius melukis itu: garis lurus, nama Tuhan,

dan denah istanaNya

Sedang aku santai saja membikin coret-coretan: sketsa sebuah
senja,

menanti seekor camar buta

Atau gambar sebelah malam, memeluk seorang pelacur kering
air mata

Kulihat di garis batas

Dirimu tegak kibarkan panji

Tapi kau manusia juga: seorang gadis rupanya jatuh cinta

Kau coba rengkuh aku

Sayang, sayang, aku tak tergenggam

Di sunyi malam kau menangis dan berdoa, semoga

kita dipertemukan di sorga

Di sini aku dengar dan membaca

Tapi katanya aku pendosa, lalu lewat pintu yang mana?

Serang, 14 November
2003


Kamarnya Serupa Kuburan

Seorang musafir kelelahan

Ia lelaki pulang ke kamar:

–tak ada cinta; cuma luka berserak di kasur tua

Zuadah habis sudah di jalan

Seorang musafir berhenti berjalan

Ia lelaki baringkan badan

Sunyi lelap

Dan damai yang dalam

Ada wangi kamboja

Kamarnya serupa kuburan.

Serang, 10 November
2003

Sajak Insomniaku

Secangkir teh panas

Di atas kata-kata yang membukit cemas

Uapnya sapa aku

Lelaki yang layu seluruh

Jadi hangat; pada dingin kucoba memerah sisa keringat

Lagu-lagu via radio lima band

Menemani enggan

Lantas kubuat nikmat tulis sajak

Bersama malam tua; tentang hujan yang baru saja reda.

Kamar, 4 November 2003

Lima Tahun di Sebuah Kota

Lima tahun di sebuah kota

Belum tua

Tapi cukup waktu

Tiap kali panen jagung tiba

Untuk aku memilih dewasa

Alun-alun kota yang setia

Pasar Rau yang seperti tak hendak lagi gembira

Golok-golok yang tetap menjadi raja

Kusaksikan itu semua

Lima tahun di sebuah kota

Sejak aku datang remaja, belum tua

Tapi cukup waktu

Untuk aku jatuh cinta

Pada gadis-gadis manisnya, tersenyum

Melirik sepeda tua, dan kemejaku yang sederhana.

Serang, 21 Oktober 2003

Sajak Warung Emak

Sampah kuaci, bungkus permen

plastik, dan sedotan

(kadang bercampur ludah, ingus, dan dahak sialan)

berserak bersorak, jadi dekor malam

lalu apalagi?

Usai orang-orang pergi dan datang

Jadi pembeli atau penghutang

Atau sekedar nyinyir menawar barang

Lalat-lalat memang sudah pulang

Tapi amis itu masih menggenang

Busuk malah bersarang

Udara tak lagi sesialan tadi siang

Namun Emakku, nafas kita masih gerah

Seharian menyetel raut ramah

Dan warung kita Emak, sampai kapan dia bisa tahan? Tampil
sopan,

mendengarkan gerutuan!

Warung, 20 Oktober
2003

Kata-kata Menangisi dan Menertawaiku

Kata-kata yang kutulis

Mereka bersekongkol menangisi dan menertawaiku

Kutanam kegelisan di seluruh pagi

Dan menjadi ranum di sempurna malam

Kupetik!

Kupetik!

Tapi mengapa jadi mentah lagi?

Kukenyam,

Kukenyam,

Puihh!

Malah tinggal rasa yang masam

Di atas kertas

Tak lagi ada buah masak kutemukan

Mungkin karena buah
masak cuma ada di bukit perenungan

Sedang aku asik bermain di dasar lembah

Mengalir seribu anak sungai, tenang

Tapi ke mana laut tujuan?

Kamar, 13 Oktober 2003

Lakon Itu

–Kau yang kucoba kukenang

Pertama cerita dimulai

Sutradara tak sempat katakan, kau bernafas dalam monolog
ragu

Lakon segera kita mainkan

Hampir seluruh malam di pentas kesepian

Aku ambil peran Rama buta mengembara kota

Sedang kau Sinta amnesia di seribu simpang tanpa plang nama

Lakon itu kukira nyata

Maka kugenapkan saja cinta, dengan ikatan

Kita yang ganjil.

Alun-alun Timur Kota
Serang, 8 Oktober 2003

Siapa Mau Jadi Cintaku

Perempuan,

Siapa mau jadi cintaku?

Petani dengan pena

Yang kerjanya mencangkuli ladang kata

Maka jadilah cintaku

Sebab yang akan kubuatkan

Saung teduh beratapkan sajak-sajak roman

Sebab yang akan kusemaikan

Benih kasih hibrida dari kesetiaan.

Akulah petani yang setiap pagi

Memupuki kerinduan

Akulah petani yang setiap petang

Menyirami kemesraan

Akulah petani yang tak henti merayu

Meski matahari keringkan ilalang

Dan kau adalah perempuan itu

Yang kuajak menuai rindu dan cemburu

Dari ladang yang kita garap bersama.

Maka jangan ragu,

Siapa mau jadi cintaku?

Kamar Lelaki, 22
Agustus 2003

Dari Sebuah Bab

–Buat Ing: dari sketsa akhir ikatan kita yang ganjil

Ing,

Sudah kau baca wajahku

Kuharap kau temukan catatan-catatan itu

Cerita tentangku

Yang lelah menulis bersama waktu

Ing,

Kita sudah saling mengeja

Lewat dua mata yang nampak keruh

Namun hening

Lalu kita pun jadi tahu

Betapa kehidupan punya banyak cerita

Untuk orang-orang asing

Ing,

Kini aku lelaki

Yang memunguti pecahan-pecahan kaca

Lalu kusatukan

Jadi sebuah cermin tanpa bingkai

Coba lihat di dalamnya: tak ada Qais dan Laila

Ternyata kita cuma penggalan cerita usang

Dari sebuah bab kehidupan.

Serang, Juli 2003

Kau Adalah Laut

Kini kita dipertautkan

Pada sebuah perhelatan pantai

Di tatapmu

Di senyummu

Di tawamu

Kau perempuan betapa teduh

Tapi kutahu, kau adalah laut

Lalu kulihat ombak menyajak

Sampirkan debur dan riak

Ada senja merayu

Kiaskan aku padamu.

Wisma Antony, Anyer –
Carita, awal Juli 2003

Cerita
Ranting

Ada ranting

Menangis bening

Bertabur bunga-bunga kering

Serang, Maret 2003

Tentang
Endang Rukmana

Endang Rukmana, lahir di Jakarta pada 15 Mei
1983 (secara de facto) dan 15 Mei
1984 ( secara de jure; menurut akte
kelahiran). Pernah memakai nama pena Qorie Lawa (khusus fiksi).
Lelaki dengan wajah slonong boy dan
sikap tak tenang ini dibesarkan di daerah urban yang pengap, kumuh, dan
semrawutan; dengan pergaulan sehari-harinya yang kurang mendukung untuk
beralim-alim, bersaleh-saleh, bersopan-sopan, dan bersantun-santun. Maka
tumbuhlah ia menjadi remaja yang sedikit asal dalam bersikap, sedikit baduwi;
serta cenderung geshelschaft dan terbiasa kompromistik. Menempuh
pendidikan di SDN Rawa Bebek 1 Bekasi, SLTP Barata Jakarta-Timur, MTsN Model
Padarincang, SMUN 1 Serang, dan kini tercatat sebagai mahasiswa program S1 Ilmu
Sejarah Universitas Indonesia.
        Ketika Jakarta dilanda kerusuhan dan
penjarahan massal, Mei 1998, ia bersama keluarga hijrah ke kota Serang. Tepatnya di kecamatan Padarincang-Ciomas.
Sebuah daerah yang tak kalah kerasnya dengan lingkungan urban masyarakat
Jakarta. Sebuah daerah yang dikenal dengan golok dan kesan angker jawara.
        Mulai menulis dengan motif ekonomi. Lomba
demi lomba penulisan baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional, telah
diikutinya demi mengisi tabungan. Alhasil, ia sempat digelari “juragan becak”
lantaran berhasil membeli tiga buah becak dengan uang sendiri, hasil lomba menulis
itu. Prestasi terbarunya mendapat anugerah “Unicef Award for Indonesian Young
Writers” 2004 atas esainya dalam lomba Penulisan Esai untuk Remaja yang
diselenggarakan oleh YKAI dan Unicef.
         Ketika SMA sempat pula ia magang sebagai
reporter di rubrik “GAUL” Harian Banten selama beberapa edisi, serta
dipercaya sebagai Redaktur Pelaksana Jurnal Sastra “Ketika” SSSI Serang. Pada
22 – 26 Februari 2005 terpilih sebagai pemakalah delegasi mahasiswa Ilmu
Sejarah UI dalam acara Seminar Sejarah di Denpasar, Bali yang diselenggarakan
oleh IKAHIMSI (Ikatan HMJ Sejarah Se-Indonesia), dan pada 4 Maret 2006 menjadi pembicara pada acara talkshow "Membaca Itu Asyik!" di World Book Day 2006 Indonesia.
          Karya-karyanya berupa puisi,
cerpen, esai/artikel, reportase, dan resensi buku mulai muncul di beberapa
media massa (Fajar Banten, Radar Banten/d.h. Harian Banten, Jurnal Sastra
“Ketika”, Jurnal “Rumah Dunia”, Majalah Menara Banten, Majalah Horison suplemen
Kakilangit, Majalah MataBaca, Tabloid Spice!).
     Dalam antologi “Sembunyi Sampai Mati” yang
diterbitakan SanggarSastra Serang/S3
(September, 2003) termuat beberapa puisinya. “Hanoman Mencari Cinta”, adalah
buku kumpulan puisi tunggal pertamanya. Sementara cerpennya terpilih dalam
Antologi Cerpen Rumah Dunia
“Kacamata Sidik” (Senayan Abadi, 2004), Antologi Milad FLP Ke-8 “Ketika Cinta
Menemukanmu” (GIP, 2005), Antologi Rumah
Dunia
“Masih Ada Cinta di Senja Itu” (Senayan Abadi, 2005). Esai-esainya,
bersama Adkhilni MS (semasa SMA), dibukukan dalam “Dari Donat Sampai Presiden”
yang diterbitkan atas kerjasama SanggarSastraSerang/S3,
Rumah Dunia, dan Suhud
Sentrautama (2004). Esai-esainya juga termuat dalam antologi esai anak “Mom, I
Love You” (Mizan, 2004), antologi “25 Kisah Cinta Sejati” (GagasMedia, 2005),
antologi “Ketika Penulis Jatuh Cinta” (LPPH, 2005).
         Novel debutannya “SAKIT 1/2 JIWA" terbit di GagasMedia (30 Mei 2006). Di Bulan Juli 2006 menyusul sebuah novel adaptasinya berjudul "GOTCHA!" (based on screenplay by Ery Sofid) yg juga diterbitkan GagasMedia.
         Cowok Taurus ini mengaku punya obsesi
melanjutkan studinya di Monash University, Australia (S2); Leiden
Universiteit, Belanda (S3), dan atau menjadi pengusaha sukses di bidang food & agrobisnis—ada yang mau investasi?
        Bermodalkan nawaetu dan berucap “bismillah…”,
ia akan terus melangkah mencari-cari masa depannya, mencari-cari kedewasaannya,
dan tentu saja mencari-cari calon istrinya. Siapa tertarik padanya, silahkan
kontak email atau join with his friendster: akudisinibahagia@yahoo.co.id .*

Kredo Hidupku

October 8th, 2005 by adalelakibelajarbahagia

Serupa Pasir
Serupa Air

 

Aku serupa pasir

Jangan menggenggam terlampau erat

 

Aku serupa air mengalir

Jangan memaksa melukis di riaknya

 

Biarkan aku teronggok getir

Biarkan aku, meski tak tiba di hilir.

 

Kamar Lelaki, 18 November 2003

 

 

Sementara Hujan….

October 8th, 2005 by adalelakibelajarbahagia

Sementara Hujan Tinggal Gemericik

 

Sementara hujan tinggal gemericik

Namun udara masih nikmat nyanyikan duka

 

Aku menghela sembilan puluh sembilan nafas

Jemu membaca kesedihan, di halaman

Dan sepanjang jalan.

 

Serang, 5
Januari 2004

 

Kita Masih Bisa Beli Beberapa Puisi

October 8th, 2005 by adalelakibelajarbahagia

Kita Masih
Bisa Beli Beberapa Puisi

 

Di tebing matamu Emak, sejuta
murung bertengger

Kudengar riak resah, kuhafal debur
gundah, dan gemuruh amarahmu

 

Sebab anak-anakmu

Makan sisa nasi goreng dingin sore
ini

Tak ada ikan dari nelayan

Cuma garam pelengkap kesedihan,
jadi lauk nanti malam

 

Emakku, makanlah

Redakanlah segala riak, debur, dan
gemuruhmu

Usah khawatir dengan periuk yang
kosong itu

Sungguh, aku masih bisa beli
beberapa puisi

Untuk dimakan esok hari.

 

Pada Sebuah
Kontrakan Kecil di Kaujon,

4
April 2004

 

ada lelaki belajar nge-blogs :-)

October 2nd, 2005 by adalelakibelajarbahagia

Malam ini,
bermodal segenap ketidaktahuan
dan kebodohan yang terpendam
di sebuah warnet yg lemotnya na’udzubilah
ada seorang lelaki (berpredikat Jomblo-SudahSangatHina)
lagi belajar nge-blogs!

hiks..hiks…, please ajarin gw ya kawan-kawinku yg baik,
gimana kiatnya jd blogers yg baek & benar :-P

Salam haneut,

Endang Rukmana: Ada Lelaki Belajar Bahagia