Puisi-Puisi Endang
Rukmana 2005
Kemana Cinta Pergi di Tahun Baru?
Izinkan satu detik lagi, di antara tiupan terompet
Kucari Cinta
Izinkan, meski tahun telah terganti
Di keriuhan samudera bunga api, biar kucari jejakmu cintaku!
Seperti tahun lalu, izinkanlah
Kuteriakan namamu Cinta, di kedalaman lubuk harap dan doa
Dan jika tak kutemu,
Izinkanlah kubertanya, meski kata “jawab” telah hilang dari
Kamus Besar Bahasa Kita:
Kemana kau pergi di tahun baru, Cintaku?
Aku menunggumu, di bibir waktu.
Asrama Mahasiswa UI
Depok,
31 Desember 2005,
Pukul 23.55 WIB – 1 Januari 2006, Pukul 01.01 WIB
Ode Anak Lelaki, Setelah 22
Tahun
Lahir aku dari hangat embun, 22 tahun lampau,
Pinggir kota Jakarta yang tersenyum resah
“Selamat datang, Nak! Menangislah untuk kami,
orangtuamu yang kering sudah air mata,” demikian Emakku
mengeja kata,
sehabis subuh yang risau tadi malam
Lalu kokok jago sumringah,
tak kenal lelah mengantarku tiap pagi mengenal dunia:
“Jangan takut menatap matahari, Nak!”
Dan masih belum juga jemu, hingga kini,
Senja yang pucat, silih berganti mendongeng padaku tentang
masa depan
Lalu tiba malam, ucapkan nina bobo sambil merangkulku dalam
gelap
Suatu ketika, kusaksikan ujung waktu yang paling merah itu,
menari-nari di atas kepala Bapak:
“Lihat Nak, tarian takdir menyeruku untuk bergegas! Jangan
pernah menangis Nak, sebab engkau lelaki, kelak sendiri saja.” demikian lagu
terakhir yang dibisikan Bapak padaku
Sejuta batu penderitaan tiba-tiba berhamburan menghimpitku,
terus menerus seperti itu,
membuatku jadi kerdil dan nyaris lumpuh
22 tahun sudah, saatnya berani berkaca
Namun apa yang kulihat, pada sebuah bingkai embun yang tua
dan penuh luka:
bayangku hanya setumpuk batu
Sendiri aku kini, terasing serupa sekeping batu di dasar
waktu
Menangis aku, tapi air mata yang menderas menjelma
kerikil-kerikil yang menyakitkan
Kurasa tak lagi ada yang menemaniku,
kecuali sekotak lamunan yang sesekali muncul, saat Senja
mulai asik bergurau
Tentang hari esok yang berwarna jingga
Kurasa tak lagi ada yang kumiliki,
kecuali sekotak embun yang telah jadi batu.
Asrama UI Depok, 29
November 2005
Maka
Bangunkan Aku
Ratu, kupilih jalan ini yang
berlumpur dan berbatu
Jalan pelengkap luka
Luka Hanoman
Luka lelaki yang bukan Rama atau
Arjuna
Semuram kabut
Di pungungmu, Salak, kulahirkan
puisi biar tak lagi muram
Dalam sahaja sungai-sungai di
lembahmu, kuhanyutkan sejarah
Dalam panas kawahmu, kulebur mimpi
dua puluh satu tahun lalu
Hingga lupa aku segala yang bernama
harapan
Kuingin lelap….
Embun bersenandung
Kabut bertasbih
Maka bangunkan aku
Saat para pendaki mulai bercerita
Nikmati secangkir kopi di muka
tenda.
Kawah
Ratu, Gunung Salak – Sukabumi, 11 – 13 Maret 2005
Mari, Masuk Ke Dalam Senjaku
Perkenalkan, aku lah lelaki senja
Bersama matahari tua, menjengukmu;
Puteri yang selalu bersama sejuta bintang
Lalu kubisikan padamu:
–mari, biarkan bintang-bintang itu, masuk ke dalam senjaku!
Lalu kau balas membisik:
–jangan, bintang-bintangku milik malam!
Awal Februari, 2005
=============================================================
Puisi-Puisi Endang
Rukmana 2004
Senja Patah
Jalan itu lengang
Senja patah
Dan angin menyendiri saja
Seharian sudah kita berbicara
Namun sepi tetap aku
Dan sepertinya kau tak pernah tahu
Sebentuk kutukan menyalamiku
Kudengar kau berkata
Bahwa Subuh tak membawa cinta yang kuseru
Di antara temaram lampu jalan kuberseru
“Mari, kita lanjutkan Sinta!”
Lalu sahutmu
“Jangan, wahai kera yang luka. Kudengar suara muadzin
memanggilmu pulang!”
Ah, kau bisa saja cari alasan
Untuk dapat kutinggalkan di bangku stasiun itu
“Sudah, bergegaslah Hanoman! Dan jangan menoleh lagi.”
Katamu, dalam senyum paling cantik dan paling luka
Maka aku melangkah menjauh
Melambai angin, bangku stasiun, rel kereta, daun-daun,
gang-gang, jalan lapang;
Dan bayangmu, kulihat mengantarku sampai akhir perjalanan
kita
Aku, tinggal kau
Bersama 1001 rambutku
Sampai nanti, Sinta!
Semoga kereta Rama tidak terlambat menjemputmu.
Akhir dari sebuah
senja, 4 Desember 2004
Malam Ini Izinkan Kucium Kamu
Malam ini adalah perjalanan menjauh dari kotamu
Meski kutahu tak akan lenyap jejak nafasmu
Dalam deru Pakupatan – Leuwipanjang
Dalam beku Parahiyangan
Izinkan kucium kamu
Izinkan kucium kamu
Serang-Bandung, suatu
malam di bulan Juli 2004
Kaujon, 4 April 2004
Maaf,
SMS-mu Tak Kubalas
Ah, sungguh aku
Malam ini beribu nomer datang
Beribu pesan
Beribu nama
Beribu wajah
Beribu lamunan
Beribu nyanyian
Beribu ketegangan
Beribu kejemuan
Beribu lagi yang tak kuasa kusebutkan
Jadi maaf, SMS-mu tak kubalas.
Kamar, dini hari, 24
Maret 2004
Hanoman
Mencari Cinta
O, teman perempuanku
Siapa dia yang kau cari-cari dalam mimpimu
Rama dengan kereta kencana
Atau Arjuna dengan panah cintanya
Siapa dia yang mampu, membikinmu
melenguh dan memeluh
Kumalu
Kumau
Kucemburu
Kutergugu
Kumerindu
Namun tak punya aku, kereta dan panah itu
Kuluka
Kuluka
Memburu kuluka
Maka aku perkenalkan lah:
Hanoman mencari cinta!
Kamar, pukul 24.30, 22
Maret 2004
Cerita
dari Kamar Lelaki
Tiap kamarku
Adalah berlembar-lembar ruang berisi kisah
Kisah tentang aku dan keringatnya
Kisah tentang aku dan sisa lamunannya
Kisah tentang aku dan jejak pencariannya
Lalu kisah-kisah lelaki lainnya.
Maret, 2004
Saat Itu Umurku 27
–kepada Yth. Perempuan yang teramat ingin kumemilikinya
Hemmh…, ya bertahun-tahun lagi ya
Saat itu umurku 27: punya rumah sederhana, bekerja
sebagai guru negeri, sedikit deposito di bank, dan
sebuah motor bebek mungkin
Saat itu akan maukah kamu: menikmati
hangat teh manis bersamaku, menjelang
malam-malam punya kita
Dan biarkan dunia dengan gerutunya.
Kelas, Maret 2004
Lelaki
di Musim Kemarau
Mencintai itu,
Seperti menanam perasaan
Suatu waktu memetik
Namun jika tak ada, apa pun
yang kau petik
Tak usah henti jadi petani
Anggap ini kali sekedar panen gagal,
sebab musim kemarau.
Kamar, Maret 2004
Menulis
Aku untuk Kamu
Menulis aku karena kamu
Seribu sajak yang bening
Seribu sajak yang keruh
Hanya untuk katakan, sedemikian
ingin aku,
mencium kamu.
Kamar, 17 Januari 2004
Sementara Hujan Tinggal Gemericik
Sementara hujan tinggal gemericik
Namun udara masih nikmat nyanyikan duka
Aku menghela sembilan puluh sembilan nafas
Jemu membaca kesedihan, di halaman
Dan sepanjang jalan.
Serang, 5 Januari 2004
=============================================================
Puisi-Puisi Endang
Rukmana 2003
Serupa
Pasir Serupa Air
Aku serupa pasir
Jangan menggenggam terlampau erat
Aku serupa air mengalir
Jangan memaksa melukis di riaknya
Biarkan aku teronggok getir
Biarkan aku, meski tak tiba di hilir.
Kamar Lelaki, 18
November 2003
Pintu
Sorga untuk Pendosa
Lamat-lamat kau mengabur
Hilang bayang di ujung senja sebuah kampus
Ada yang terhempas dan pupus
Dalam ruang sendu dan kelam waktu
Lalu yang tinggal lagi-lagi secuil tanya: kita berlainan
arah?
Kau selalu serius melukis itu: garis lurus, nama Tuhan,
dan denah istanaNya
Sedang aku santai saja membikin coret-coretan: sketsa sebuah
senja,
menanti seekor camar buta
Atau gambar sebelah malam, memeluk seorang pelacur kering
air mata
Kulihat di garis batas
Dirimu tegak kibarkan panji
Tapi kau manusia juga: seorang gadis rupanya jatuh cinta
Kau coba rengkuh aku
Sayang, sayang, aku tak tergenggam
Di sunyi malam kau menangis dan berdoa, semoga
kita dipertemukan di sorga
Di sini aku dengar dan membaca
Tapi katanya aku pendosa, lalu lewat pintu yang mana?
Serang, 14 November
2003
Seorang musafir kelelahan
Ia lelaki pulang ke kamar:
–tak ada cinta; cuma luka berserak di kasur tua
Zuadah habis sudah di jalan
Seorang musafir berhenti berjalan
Ia lelaki baringkan badan
Sunyi lelap
Dan damai yang dalam
Ada wangi kamboja
Kamarnya serupa kuburan.
Serang, 10 November
2003
Sajak Insomniaku
Secangkir teh panas
Di atas kata-kata yang membukit cemas
Uapnya sapa aku
Lelaki yang layu seluruh
Jadi hangat; pada dingin kucoba memerah sisa keringat
Lagu-lagu via radio lima band
Menemani enggan
Lantas kubuat nikmat tulis sajak
Bersama malam tua; tentang hujan yang baru saja reda.
Kamar, 4 November 2003
Lima Tahun di Sebuah Kota
Lima tahun di sebuah kota
Belum tua
Tapi cukup waktu
Tiap kali panen jagung tiba
Untuk aku memilih dewasa
Alun-alun kota yang setia
Pasar Rau yang seperti tak hendak lagi gembira
Golok-golok yang tetap menjadi raja
Kusaksikan itu semua
Lima tahun di sebuah kota
Sejak aku datang remaja, belum tua
Tapi cukup waktu
Untuk aku jatuh cinta
Pada gadis-gadis manisnya, tersenyum
Melirik sepeda tua, dan kemejaku yang sederhana.
Serang, 21 Oktober 2003
Sajak Warung Emak
Sampah kuaci, bungkus permen
plastik, dan sedotan
(kadang bercampur ludah, ingus, dan dahak sialan)
berserak bersorak, jadi dekor malam
lalu apalagi?
Usai orang-orang pergi dan datang
Jadi pembeli atau penghutang
Atau sekedar nyinyir menawar barang
Lalat-lalat memang sudah pulang
Tapi amis itu masih menggenang
Busuk malah bersarang
Udara tak lagi sesialan tadi siang
Namun Emakku, nafas kita masih gerah
Seharian menyetel raut ramah
Dan warung kita Emak, sampai kapan dia bisa tahan? Tampil
sopan,
mendengarkan gerutuan!
Warung, 20 Oktober
2003
Kata-kata Menangisi dan Menertawaiku
Kata-kata yang kutulis
Mereka bersekongkol menangisi dan menertawaiku
Kutanam kegelisan di seluruh pagi
Dan menjadi ranum di sempurna malam
Kupetik!
Kupetik!
Tapi mengapa jadi mentah lagi?
Kukenyam,
Kukenyam,
Puihh!
Malah tinggal rasa yang masam
Di atas kertas
Tak lagi ada buah masak kutemukan
Mungkin karena buah
masak cuma ada di bukit perenungan
Sedang aku asik bermain di dasar lembah
Mengalir seribu anak sungai, tenang
Tapi ke mana laut tujuan?
Kamar, 13 Oktober 2003
Lakon Itu
–Kau yang kucoba kukenang
Pertama cerita dimulai
Sutradara tak sempat katakan, kau bernafas dalam monolog
ragu
Lakon segera kita mainkan
Hampir seluruh malam di pentas kesepian
Aku ambil peran Rama buta mengembara kota
Sedang kau Sinta amnesia di seribu simpang tanpa plang nama
Lakon itu kukira nyata
Maka kugenapkan saja cinta, dengan ikatan
Kita yang ganjil.
Alun-alun Timur Kota
Serang, 8 Oktober 2003
Siapa Mau Jadi Cintaku
Perempuan,
Siapa mau jadi cintaku?
Petani dengan pena
Yang kerjanya mencangkuli ladang kata
Maka jadilah cintaku
Sebab yang akan kubuatkan
Saung teduh beratapkan sajak-sajak roman
Sebab yang akan kusemaikan
Benih kasih hibrida dari kesetiaan.
Akulah petani yang setiap pagi
Memupuki kerinduan
Akulah petani yang setiap petang
Menyirami kemesraan
Akulah petani yang tak henti merayu
Meski matahari keringkan ilalang
Dan kau adalah perempuan itu
Yang kuajak menuai rindu dan cemburu
Dari ladang yang kita garap bersama.
Maka jangan ragu,
Siapa mau jadi cintaku?
Kamar Lelaki, 22
Agustus 2003
Dari Sebuah Bab
–Buat Ing: dari sketsa akhir ikatan kita yang ganjil
Ing,
Sudah kau baca wajahku
Kuharap kau temukan catatan-catatan itu
Cerita tentangku
Yang lelah menulis bersama waktu
Ing,
Kita sudah saling mengeja
Lewat dua mata yang nampak keruh
Namun hening
Lalu kita pun jadi tahu
Betapa kehidupan punya banyak cerita
Untuk orang-orang asing
Ing,
Kini aku lelaki
Yang memunguti pecahan-pecahan kaca
Lalu kusatukan
Jadi sebuah cermin tanpa bingkai
Coba lihat di dalamnya: tak ada Qais dan Laila
Ternyata kita cuma penggalan cerita usang
Dari sebuah bab kehidupan.
Serang, Juli 2003
Kau Adalah Laut
Kini kita dipertautkan
Pada sebuah perhelatan pantai
Di tatapmu
Di senyummu
Di tawamu
Kau perempuan betapa teduh
Tapi kutahu, kau adalah laut
Lalu kulihat ombak menyajak
Sampirkan debur dan riak
Ada senja merayu
Kiaskan aku padamu.
Wisma Antony, Anyer –
Carita, awal Juli 2003
Cerita
Ranting
Ada ranting
Menangis bening
Bertabur bunga-bunga kering
Serang, Maret 2003
Tentang
Endang Rukmana
Endang Rukmana, lahir di Jakarta pada 15 Mei
1983 (secara de facto) dan 15 Mei
1984 ( secara de jure; menurut akte
kelahiran). Pernah memakai nama pena Qorie Lawa (khusus fiksi).
Lelaki dengan wajah slonong boy dan
sikap tak tenang ini dibesarkan di daerah urban yang pengap, kumuh, dan
semrawutan; dengan pergaulan sehari-harinya yang kurang mendukung untuk
beralim-alim, bersaleh-saleh, bersopan-sopan, dan bersantun-santun. Maka
tumbuhlah ia menjadi remaja yang sedikit asal dalam bersikap, sedikit baduwi;
serta cenderung geshelschaft dan terbiasa kompromistik. Menempuh
pendidikan di SDN Rawa Bebek 1 Bekasi, SLTP Barata Jakarta-Timur, MTsN Model
Padarincang, SMUN 1 Serang, dan kini tercatat sebagai mahasiswa program S1 Ilmu
Sejarah Universitas Indonesia.
Ketika Jakarta dilanda kerusuhan dan
penjarahan massal, Mei 1998, ia bersama keluarga hijrah ke kota Serang. Tepatnya di kecamatan Padarincang-Ciomas.
Sebuah daerah yang tak kalah kerasnya dengan lingkungan urban masyarakat
Jakarta. Sebuah daerah yang dikenal dengan golok dan kesan angker jawara.
Mulai menulis dengan motif ekonomi. Lomba
demi lomba penulisan baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional, telah
diikutinya demi mengisi tabungan. Alhasil, ia sempat digelari “juragan becak”
lantaran berhasil membeli tiga buah becak dengan uang sendiri, hasil lomba menulis
itu. Prestasi terbarunya mendapat anugerah “Unicef Award for Indonesian Young
Writers” 2004 atas esainya dalam lomba Penulisan Esai untuk Remaja yang
diselenggarakan oleh YKAI dan Unicef.
Ketika SMA sempat pula ia magang sebagai
reporter di rubrik “GAUL” Harian Banten selama beberapa edisi, serta
dipercaya sebagai Redaktur Pelaksana Jurnal Sastra “Ketika” SSSI Serang. Pada
22 – 26 Februari 2005 terpilih sebagai pemakalah delegasi mahasiswa Ilmu
Sejarah UI dalam acara Seminar Sejarah di Denpasar, Bali yang diselenggarakan
oleh IKAHIMSI (Ikatan HMJ Sejarah Se-Indonesia), dan pada 4 Maret 2006 menjadi pembicara pada acara talkshow "Membaca Itu Asyik!" di World Book Day 2006 Indonesia.
Karya-karyanya berupa puisi,
cerpen, esai/artikel, reportase, dan resensi buku mulai muncul di beberapa
media massa (Fajar Banten, Radar Banten/d.h. Harian Banten, Jurnal Sastra
“Ketika”, Jurnal “Rumah Dunia”, Majalah Menara Banten, Majalah Horison suplemen
Kakilangit, Majalah MataBaca, Tabloid Spice!).
Dalam antologi “Sembunyi Sampai Mati” yang
diterbitakan SanggarSastra Serang/S3
(September, 2003) termuat beberapa puisinya. “Hanoman Mencari Cinta”, adalah
buku kumpulan puisi tunggal pertamanya. Sementara cerpennya terpilih dalam
Antologi Cerpen Rumah Dunia
“Kacamata Sidik” (Senayan Abadi, 2004), Antologi Milad FLP Ke-8 “Ketika Cinta
Menemukanmu” (GIP, 2005), Antologi Rumah
Dunia “Masih Ada Cinta di Senja Itu” (Senayan Abadi, 2005). Esai-esainya,
bersama Adkhilni MS (semasa SMA), dibukukan dalam “Dari Donat Sampai Presiden”
yang diterbitkan atas kerjasama SanggarSastraSerang/S3,
Rumah Dunia, dan Suhud
Sentrautama (2004). Esai-esainya juga termuat dalam antologi esai anak “Mom, I
Love You” (Mizan, 2004), antologi “25 Kisah Cinta Sejati” (GagasMedia, 2005),
antologi “Ketika Penulis Jatuh Cinta” (LPPH, 2005).
Novel debutannya “SAKIT 1/2 JIWA" terbit di GagasMedia (30 Mei 2006). Di Bulan Juli 2006 menyusul sebuah novel adaptasinya berjudul "GOTCHA!" (based on screenplay by Ery Sofid) yg juga diterbitkan GagasMedia.
Cowok Taurus ini mengaku punya obsesi
melanjutkan studinya di Monash University, Australia (S2); Leiden
Universiteit, Belanda (S3), dan atau menjadi pengusaha sukses di bidang food & agrobisnis—ada yang mau investasi?
Bermodalkan nawaetu dan berucap “bismillah…”,
ia akan terus melangkah mencari-cari masa depannya, mencari-cari kedewasaannya,
dan tentu saja mencari-cari calon istrinya. Siapa tertarik padanya, silahkan
kontak email atau join with his friendster: akudisinibahagia@yahoo.co.id .*